Bunga merakah diantara duri-duri
di tiap batang ini
Sang gelap berjalan tanpa terpelanting ke selokan
suara hati membisikan dua suku kata "CIN TA"
keterbelengguan menjadikan kenikmatan tanpa arah,
Namun satu tujuan dalam mencapai keinginan.
bergerak bersatu membawa segenggam harapan
harapan hina untuk terlepas dari kenistaan
9.13.2008
.:: Sudahlah Indonesiaku::.
sayup terdengar diantara kedua telinga
SANG TULI
suara terucap lirih dari kedua bibir
SANG BISU
langkah tertatih terlihat samar oleh
SANG LUMPUH tergerakkan
CONGKEL saja mata itu !!
jika tak pernah mampu tuk melihat
TUSUK saja telinga itu !!
jika tak pernah mampu lagi tuk mendengar
JAHIT saja mulut itu
jika tak pernah mampu bersuara sumbang
Apakah kebosanan tak juga datang
disaat ada teriakan sang lapar
Apakah yang kau tunggu
gemuruh langit yang mengerikan
Apakah yang kau tunggu
desiran ombak yang mengganas
Apakah yang kau tunggu
Apakah yang kau tunggu
Jangan kau coba tuk menunggu
Saat itu datang sudah tak ada waktu bagimu
(kubuat untuk INDONESIA qu)
(di tangerang, 19 Oktober 2003)
SANG TULI
suara terucap lirih dari kedua bibir
SANG BISU
langkah tertatih terlihat samar oleh
SANG LUMPUH tergerakkan
CONGKEL saja mata itu !!
jika tak pernah mampu tuk melihat
TUSUK saja telinga itu !!
jika tak pernah mampu lagi tuk mendengar
JAHIT saja mulut itu
jika tak pernah mampu bersuara sumbang
Apakah kebosanan tak juga datang
disaat ada teriakan sang lapar
Apakah yang kau tunggu
gemuruh langit yang mengerikan
Apakah yang kau tunggu
desiran ombak yang mengganas
Apakah yang kau tunggu
Apakah yang kau tunggu
Jangan kau coba tuk menunggu
Saat itu datang sudah tak ada waktu bagimu
(kubuat untuk INDONESIA qu)
(di tangerang, 19 Oktober 2003)
Label:
Coretan batinku yang lain
.:: rinduku hai ceca ::,
dalam diammu tak mungkin aku tak bergerak
ingin rasanya ku mencongkel hati ini
agar ku tak mampu merasakan kepedihan arti rindu yang tak terbendung
saat ku ingat senyummu
saat ku ingat cahaya di matamu
terkadang hatiku muali kaku
jika teringat semua itu
Badai yang selalu menerpamu
akankah kau tegar berdiri disitu
ranjau darat hampir saja membuatku lumpuh tuk menggapaimu
tau bahkan mampu tuk meninggalkanmu
untung masih ada rindu
RINDU KU dan RINDUMU
(kubuat untuk orang yg kusayang ENCA "sikecoa moengil")
ingin rasanya ku mencongkel hati ini
agar ku tak mampu merasakan kepedihan arti rindu yang tak terbendung
saat ku ingat senyummu
saat ku ingat cahaya di matamu
terkadang hatiku muali kaku
jika teringat semua itu
Badai yang selalu menerpamu
akankah kau tegar berdiri disitu
ranjau darat hampir saja membuatku lumpuh tuk menggapaimu
tau bahkan mampu tuk meninggalkanmu
untung masih ada rindu
RINDU KU dan RINDUMU
(kubuat untuk orang yg kusayang ENCA "sikecoa moengil")
Label:
Coretan batinku yang lain
.:: Kesunyian Tanpa Batas ::.
Mencoba merelungi pada setiap gegap gempita
tawa kelakar para dan pada kurcaci
tak mampu menembus keramaian
Di setiap sudut bumi hati insan terpampang keangkuhan
lentik embun dalam kehangatan
yang mencoba menuliskan di mana ...???? dan Kemana....????
Rintih roda yang tak terbendung
membawa berita yang entah kemana ...?
dalam keraguan langkah....
PENA mulai tergoreskan
KAU, AKU, DIA & MEREKA.....
hanyalah fatamorgana yang mencoba menjadi Nyata
(Kutuliskan ini di tanggal 21 Juli 2003 di Depan RumahKU)
tawa kelakar para dan pada kurcaci
tak mampu menembus keramaian
Di setiap sudut bumi hati insan terpampang keangkuhan
lentik embun dalam kehangatan
yang mencoba menuliskan di mana ...???? dan Kemana....????
Rintih roda yang tak terbendung
membawa berita yang entah kemana ...?
dalam keraguan langkah....
PENA mulai tergoreskan
KAU, AKU, DIA & MEREKA.....
hanyalah fatamorgana yang mencoba menjadi Nyata
(Kutuliskan ini di tanggal 21 Juli 2003 di Depan RumahKU)
Label:
Coretan batinku yang lain
.::Suara bumiku serak::.
Bising kota semakin gila
Asap debu kota menyesakan dada
hijau daun kini layu
daun kering bertajuk pilu
Mengejar Napas yang semakin terganggu
Bening air menjadi ilusi
setiap insan masih bermimpi
dalam hening sebuah imaji yang semakin tak terkendali
setitik embun yang pernah menghiasi pada setiap jengkal pertiwi
telah ternodai oleh insan-insan yang tak bernyali
(kubuat coretan ini di tanggal 20 Agustus 2001 tengah hari saat pengap udara jakarta membuatku terdiam di selatan jakarta)
Asap debu kota menyesakan dada
hijau daun kini layu
daun kering bertajuk pilu
Mengejar Napas yang semakin terganggu
Bening air menjadi ilusi
setiap insan masih bermimpi
dalam hening sebuah imaji yang semakin tak terkendali
setitik embun yang pernah menghiasi pada setiap jengkal pertiwi
telah ternodai oleh insan-insan yang tak bernyali
(kubuat coretan ini di tanggal 20 Agustus 2001 tengah hari saat pengap udara jakarta membuatku terdiam di selatan jakarta)
Label:
Coretan batinku yang lain
Langgan:
Entri (Atom)

